Sabtu, 12 November 2011

Memaknai Asmaul Husna (Al-Mutakabbir)

TUGAS TERSTRUKTUR
STUDI ISLAM 3

MEMAKNAI ASMAUL-HUSNA
(AL- MUTAKABBIR)










OLEH :
NAMA                 : IHDA HILYATUNNISA
NIM                     : 0901070067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2011




PENDAHULUAN
Asmaul Husna merupakan nama nama sebutan Allah yang berjumlah 99 nama. Masing-masing  nama-nama ini bersifat baik, bagus dan agung sehingga terkadang asmaul-husna ini dikenal dengan nama nama baik Allah SWT. Nama-nama tersebut merupakan cerminan dari perilaku Allah SWT terhadap umatnya. Karena itu bila nama-nama itu kita sebut sebagai suatu pemohonan, maka akan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Asma Allah ini akan membawa kebaikan bagi orang yang menyebut asma Allah serta memaknai asma-asma Allah dalam kehidupannya sesuai yang diajarkan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, seperti Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :
“Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
Di dunia ini bahkan pada hamparan langit dan bumi, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah. Allah memiliki kebesaran atas seisi alam semesta ini. Banyak peristiwa-peristiwa tentang kebesaran Allah yang belum kita ketahui atau mungkin banyak di sekitar kita namun kita tak menyadarinya.
Al-Mutakabbir adalah nama yang hanya pantas bagi Allah SWT. Tak ada satu makhluk pun yang berhak mempunyai nama ini. Untuk lebih jelasnya tentang sifat Allah ini akan dibahas pada isi makalah ini.





AL-MUTAKABBIR
(YANG MEMILIKI KEBESARAN)

A.   Pengertian
       Secara bahasa Al-Mutakabbir berarti kebesaran, angkuh, yang tidak tertundukkan. Allah Al-Mutakabbir artinya Allah pemilik segala kebesaran. Kebesaran itu hanya milik Allah. Hanya Allah yang pantas menyandangnya sebab Allah Maha Besar.
       uqèd ª!$# Ï%©!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd à7Î=yJø9$# â¨rà)ø9$# ãN»n=¡¡9$# ß`ÏB÷sßJø9$# ÚÆÏJøygßJø9$# âƒÍyèø9$# â$¬6yfø9$# çŽÉi9x6tGßJø9$# 4 z`»ysö6ß «!$# $£Jtã šcqà2ÎŽô³ç ÇËÌÈ
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan [Q.S. Hasyr (59): 23].
            Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ism dari Al-Mutakabbir adalah  takabbur dan kibriya’ yaitu pemberitahuan tentang hak Allah SWT bagi sifat-sifat agung dan sempurna. Ism Al-Mutakabbir itu mengumpulkan segala makna tanzih (penyucian). Jadi, barangsiapa mengenal ketinggian, keagungan dan kebesaran Allah, maka ia akan selalu membiasakan dirinya bersikap hina dan merendah.
Rasulullah saw. bersabda:
“Semoga Allah mengasihani hamba yang mengenal kekuasaannya sehingga ia tidak melanggar batasan-batasannya.”

Imam Ghazaly berpendapat bahwa al-Mutakabbir adalah yang memandang selainnya hina dan rendah bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan merasa bahwa keagungan dan kebesaran hanya miliknya. Sifat ini tidak mungkin disandang kecuali oleh Allah.  Karena hanya Dia Yang Berhak dan Wajar bersikap demikian. Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya miliknya secara khusus tanpa selainnya, maka pandangan tersebut salah! Kecuali Allah SWT. Tapi ingat! Bahwa sifat al Mutakabbir ini ditujukan oleh-Nya kepada mereka yang angkuh, yang memandang serta memperlakukan selainnya hina dan rendah.
B.   Kajian Tafsir Asmaul-Husna (Al-Mutakabbir) dalam Lingkup Biologi
            Sesungguhnya Allah memiliki kebesaran atas segala ciptaanya. Di dunia bahkan seisi alam semesta ini. Semuanya bertasbih hanya kepada Robb yang menciptakan yang Maha memiliki Kebesaran.
            Allah menunjukkan kebesaran dan keagungannnya melalui penciptaan gurita, dimana gurita selain memiliki 8 tentankel juga dikaruniai alat pertahanan diri dengan menyemprotkan tinta hitam ke arah musuh ketika dikejar-kejar musuhnya, sehingga pandangan musuh pun menjadi kabur dan gurita berhasil menyelamatkan ditinya. Gurita juga mempunyai alat penghisap untuk memegang dan menangkap kepiting dan lainnya. Dari cerita inilah menunjukkan bukti bahwa Allah mempunyai kebesaran dan keagungan dari segi penciptaan makhluknya. Tidah ada satu makhluk pun yang dapat menandingi ciptaannya. Dialah Yang Maha memiliki Kebesaran, yang patut menyombongkan diri.
            Ada sutu kisah dimana Allah membuktikan akan Kebesarannya kembali yaitu tentang “Sungai Dibawah Laut – Kisah Air Masin dan Air Tawar”
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53).
Seorang ahli oceanographer dan ahli selam terkemuka dari perancis yaitu Mr. Jacques Yves Costeau ketika melakukan eksploitasi di bawah laut tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Belum sampai pada jawaban yang memuaskan akan peristiwa ganjil tersebut Sampailah ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan memnceritakan kejadian itu kepadanya, Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi
ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# Èb$uÉ)tGù=tƒ ÇÊÒÈ
19.  Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu,
$yJåks]÷t/ Óˆyöt/ žw Èb$uÉóö7tƒ ÇËÉÈ
20.  Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.
Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53
.* uqèdur Ï%©!$# ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# #x»yd Ò>õtã ÔN#tèù #x»ydur ìxù=ÏB Ól%y`é& Ÿ@yèy_ur $yJåks]÷t/ %Y{yöt/ #\ôfÏmur #Yqàføt¤C ÇÎÌÈ
“Dan dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang Ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22.
ßlãøƒs $uKåk÷]ÏB àsä9÷s=9$# Üc%y`öyJø9$#ur ÇËËÈ Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara. Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. Sungguh Allah Maha memiliki Kebesaran atas segala ciptaanya di alam ini.
            Masih banyak bukti-bukti akan kebesaran Allah, seperti diterangkan dalam [QS. Al- Fushshilat] "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

Gambar 1. Bagan yang menggambarkan kemiripan dalam hal penampilan antara lintah dan embrio manusia pada fase 'alaqah. (Dari Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore dkk. hal. 37. Digubah dari Integrated Principles of Zoology, Hickman dkk. Gambar embrio dari The Developing Human, Moore dan Persad, ed. 5, hal. 73).

Gambar 2. Kita dapat melihat pada bagan ini bagaimana embrio pada fase 'alaqah bergantung dan menempel di dalam rahim (uterus) sang ibu. (The Developing Human, Moore dan Persaud, ed 5, hal 66).


 Gambar 3. Pada fotomikrograf ini kita dapat melihat bergantungnya embrio (panah B) pada fase 'alaqah (sekitar umur 15 hari) di dalam rahim sang ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio ini adalah sekitar 0.6 mm. (The Developing Human, Moore, ed. 3, hal. 66, dari Histology, Leeson dan Leeson)

Gambar 4. Bagan sistem peredaran darah primitif pada embrio dalam fase 'alaqah. Penampilan luar dari embrio dan kantungnya mirip dengan gumpalan darah karena adanya darah yang relatif banyak di dalam embrio. (The Developing Human, Moore, ed. 5, hal. 65)
Di dalam al Qur'an Allah menurunkan beberapa ayat tentang perkembangan embrio manusia.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Qur'an, 23:12-14)
Secara bahasa, kata bahasa arab 'alaqah mempunyai tiga makna: 1. lintah, 2. sesuatu yang menempel/tergantung, dan 3. gumpalan darah.
Jika kita membandingkan sebuah lintah dengan embrio pada fase 'alaqah, kita akan menemukan kemiripan di antara keduanya, sebagaimana terlihat dalam gambar 1. Selain itu, sang embrio pada fase ini memperoleh makanan melalui aliran darah dari ibunya, mirip dengan lintah yang menghisap darah dari makhluk lain.
Makna ke dua dari kata 'alaqah adalah sesuatu yang menempel/tergantung.  Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase 'alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.
Makna ke tiga dari kata 'alaqah adalah gumpalan darah. Kita dapat melihat bahwa tampilan luar dari embrio dan kantungnya pada saat fase 'alaqah sangat mirip dengan darah yang menggumpal. Hal ini disebabkan oleh kehadiran darah yang relatif banyak selama fase ini (lihat gambar 4). Pun pada fase ini, darah di dalam embrio belum mengalami sirkulasi hingga akhir minggu ke tiga. Dengan demikian, embrio pada fase ini memang mirip gumpalan darah.
Jadi, tiga makna dari kata 'alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase 'alaqah. Subhanallah Maha memiliki kebesaran Allah atas segala makhluk.




Gerhana penuh Bulan 16 Jun 2011- tanda Kebesaran dan Keagungan Allah

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui”. (Yunus :5)
Kejadian gerhana merupakan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy ‘ary bahawa Rasulullah S.A.w bersabda:
“Bahawasanya tanda-tanda ini (gerhana) Yang Allah kirimkan, dijadikan sesuatu darinya bukanlah kerana mati seseorang atau kerana lahirnya. Tetapi Allah Aza wa Jalla mengirimkan buat mempertakutkan hamba-hambaNya dengan tanda-tanda itu. Maka apabila kamu melihat sesuatu darinya bersegeralah menyebut Allah, berdoa dan beristigfar.” ( Bukhari dan Muslim)
Gerhana Bulan hanya berlaku apabila Bulan purnama, tidak berlaku diwaktu selain purnama. Ketika itu Bumi berada betul-betul di antara Matahari dan Bulan. Oleh kerana Bumi terletak di tengah antara Matahari dan Bulan menyebabkan cahaya dari Matahari akan dilindung oleh Bumi. Ini menyebabkan bayang terbentuk di sebelah belakang Bumi. Apabila Bulan beredar di dalam orbitnya dan memasukki kawasan bayang tersebut maka Bulan mengalami gerhana. Bulan tidak kelihatan bercahaya. Sebaliknya Bulan kelihatan gelap sedikit demi sedikit sehingga penuh apabila seluruh Bulan memasukki kawasan bayang.
Pergerakan Bulan, Bumi dan Matahari mempengaruhi terjadinya gerhana. Di antara kekuasaan Allah, Dialah yang menggerakkan dan menetapkan laluan Matahari, Bulan dan Bumi sejak dari mula ia diciptakan hingga ke hari ini sehinggalah kiamat.
” Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan Bulan, masing-masing dari keduanya beredar di dalam garis orbitnya.” Al Anbiya :33
Demikianlah hebatnya persembahan di langit pada malam ini. Sebenarnya kejadian gerhana ini memperlihatkan akan kekuasaan Allah bagi orang yang mahu berfikir. Jika mata hati seseorang itu tidak tertutup, ia dapat melihat perjalanan sistem Allah yang menggambarkan keharmonian, ketertiban dan kebijaksaan.
Bagi orang yang berakal dan berrfikir tentang kejadian di sekelilingnya dan diri mereka sendiri dapat melihat dalam setiap kejadian itu mengandungi kerumitan, kehalusan, kebijaksanaan dan keharmonian. Bagi orang yang waras tidak mengatakan semua ini terjadi dengan sendirinya. Tetapi ia akan meyakini disebalik penyusunan sistem ini terdapat Pencipta yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Sempurna lagi Maha Perkasa.
Peristwa lain mengenai Kebesaran Allah yaitu tentang Rahasia kentut. Buang angin, kentut, atau yang dalam istilah ilmiahnya disebut
flatulence, flatulency, flatus, adalah ciptaan Allah, yang sudah pasti bukanlah peristiwa biasa. Keluarnya angin dari anus itu sendiri juga merupakan peristiwa yang memperlihatkan kebesaran Allah SWT. Di dalam saluran pencernaan makanan, terutama di dalam usus, terdapat berbagai zat berwujud padat, cair, gas, serta dengan tingkat kepadatan dan keenceran beragam. Hebatnya, angin kentut yang berbentuk gas bisa mengalir ke arah bawah, dan menerobos cairan dan padatan di dalam usus, untuk kemudian keluar meninggalkan dubur.
Peristiwa kentut terjadi melalui cara di luar kebiasaan itu berkat sempurnanya ciptaan Allah pada otot cincin yang membuka dan menutup lubang anus itu.
Otot lingkar pada dubur ini mampu merasakan keberadaan gas kentut dan mengatur pengeluarannya sedemikian rupa sehingga hanya gas saja, dan bukan padatan dan cairan, yang keluar dari anus. Bayangkan seandainya otot ini tidak mampu memilah dan mencegah keluarnya cairan dan padatan dari usus besar kita di saat kita buang angin di tempat terbuka. Sangat diragukan jika ada alat buatan manusia yang mampu melakukan kerja seperti lubang anus yang luar biasa itu. Otot-otot dan jaringan terkait di seputar anus adalah organ ciptaan Allah yang Mahahebat, yang mampu melakukan kerja pelepasan gas kentut sekitar 10 kali per hari dengan sempurna, selama puluhan tahun usia manusia. (diambildari tulisan Abdul Halim-Februari 2008).
Demikian sebagian kecil dari bukti-bukti tentang biologi akan sifat Allah Al-Mutakabbir. Masih banyak di alam semesta ini yang belum terungkap oleh mata kita.
C.   Meneladani Nama dan Sifat Allah (Al-Mutakabbir)
            Setelah mengenal sifat Allah yang Al-Mutakabbir (Yang memiliki kebesaran), kita juga harus meneladani sifat Allah tersebut, Yang memiliki kebesaran, kita meneladaninya jangan meniru pengertian Al-Mutakabbir secara bahasa yang berarti kebesaran, angkuh, karena nantinya akan menimbulkan sifat sombong pada diri kita. Sedangkan sifat tersebut hanyalah milik Allah, tak ada satu makhluk pun yang pantas menyanding sifat tersebut. Untuk itu kita meneladani sifat Allah tersebut dengan berpikir dan berjiwa besar. Kita harus percaya diri bahwa kita dapat menjadi orang yang berhasil. Dengan memaknainya kita juga akan menjadi orang yang rendah hati. Sebagai Makhluk Allah yang paling sempurna, Ingatlah bahwa kita berasal dari setetes air mani yang menjijikkan. Ke mana-mana, kita juga membawa kotoran dalam perut. Kita ini makhluk yang lemah, roboh jika diterjang peluru, dan lumpuh jika diserang virus. Jadi tidak sepentasnya kita bersikap Tabakkur.
            Orang takabur adalah orang yang bodoh dan bohong. Bodoh karena dia tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah. dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, "Kemuliaan adalah pakaian-Ku, kebesaran adalah selendang-Ku. Siapa yang mencoba mengenakannya, akan Aku siksa." (H.R. Muslim). Orang yang berbohong sesungguhnya lemah, karena dia merasa bahwa dirinya paling hebat, padahal jika dia terkena penyakit misalkan malaria, diabetes dan penyakit lain pastilah banyak keluhan yang terlontar dari mulut maupun hatinya, menyalahkan orang lain atas penyakitnya, mencela-cela orang sisekitarnya karena penyakitnya didak sembuh sembuh padahal dia juga membutuhkan orang lain (dokter) dalam penggobatannya. Hal itu berarti bahwa dia membohongi dirinya sendiri. Oleh karena itu meneladani sifat Allah tersebut dengan menjauhkan diri dari sifat takabbur dan bersikaplah rendah hati.
            Berikut adalah sahabat Rasulullah yang menerapkan makna Al-Mutakabbir. Beliau adalah khalifah yang jujur, rendah hati, dan bijaksana. Ia sangat disegani rakyatnya. Khalifah tersebut adalah Umar Bin Khattab. Kepada siapa pun, Umar Bin Khatab tidak pernah berbuat zalim. Pada suatu hari, ia mengangkut air sendirian, sehingga sahabatnya keheranan dan bertanya kepada beliau, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa Anda mengangkut sendiri air itu? Anda bisa memerintahkan orang lain untuk membawanya,"
"Hal ini aku lakukan agar tidak ada kesombongan dalam diriku. Kalau aku menyuruh orang lain, sifat sombong akan segera timbul dalam hatiku. Oleh karena itu, kuangkut sendiri air ini untuk menundukkan sifat sombong dalam hatiku," jawab Umar Bin Khatab.
Demikianlah kerendahan hati Umar bin Khatab. Ia tidak memiliki sifat sombong sedikit pun, karena hanya Allah yang berhak menyombongkan diri atas segala kekuasaan dan keagungan-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT memiliki nama Al-Mutakabbir, yaitu Maha Pemilik Keagungan.
            Jika kita ingin meneladani sikap Al-Mutakabbir-Nya Allah, maka yang boleh kita tiru adalah bersikap sombong kepada orang-orang yang menyombongkan dirinya agar mereka segera sadar dan tidak berlarut-larut dalam keangkuhannya. Itulah sebabnya, berjalan dengan angkuh pada saat perang diperbolehkan, bahkan dianjurkan, agar musuh-musuh Islam merasa gentar dan berniat mengurungkan peperangan. Ketika Rasulullah menyaksikan para sahabat berjalan dengan angkuh pada saat perang, beliau berkomentar: “Sesungguhnya ini adalah cara jalan yang dibenci Allah, kecuali dalam situasi seperti ini”.
Ya Mutakabbir, hilangkan sifat sombong di hati kami dan gantikan dengan sifat tawadhu, merendah diri. Bukalah dada kami untuk menerima kebenaran, dari siapapun datangnya. Jauhkan kami dari sikap diskriminatif dan memandang rendah oorang lain. Ya Mutakabbir, hanya Engkau yang pantas menyandang gelar ini.
سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُ
"Maha Sucilah Allah dari apa pun yang mereka persekutukan. " (ujung ayat 23).
Tegasnya ialah bahwa sifat-sifat yang begitu agung dan mulia dan tinggi tidaklah ada pada segala apa yang dicoba menyembah dan memujanya oleh setengah manusia yang musyrik. Artinya tidaklah sanggup orang-orang atau barang-barang yang mereka sembah itu mendatangkan sejahtera atau keamanan. Tidaklah mereka perkasa sebagai Allah. Tidaklah mereka gagah segagah Tuhan. Dan tidaklah mereka dapat mengangkat menjadi mutakabbir. Sebab itu maka manusia yang mencoba menyembah kepada yang selain Allah adalah mereka merendahkan dan menghinakan diri sendiri di hadapan sesamanya makhluk. Padahal hanya Allah saja yang berhak dan yang patut dia puja, disembah, muliakan. Karena memang padaNyalah berkumpul sifat-sifat yang sempuma itu.
Al Hadid ( 57 : 20 ) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Surat al Takatsur ( 102 : 1& 8 )
1.  Bermegah-megahan telah melalaikan kamu 2. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu.
Telah jelas bahwa orang yang mencapai tingkatan Hamba Al Mutakabir adalah hamba yang diberi rahmat dan nikmat oleh Allah dan dia tidak menyombongkan pinjaman Allah tersebut kepada dirinya, menjadi orang yang tawaddu dan taqwa, meninggalkan begitu banyak kesenangan duniawi dan mengabaikan pengaruh segala sesuatu yang dapat menghalanginya dari mengingat Tuhannya.
D.   Keutamaan dan cara Mengamalkannya
Keutamaannya :
a. Bisa mendapat kewibawaan
b. Bisa menundukkan musuh
Cara mengamalkannya :
            Barang siapa membaca “YAA MUTAKABBIR” sebanyak 90 kali berturut-turut sebagai amalan setiap hari, maka Allah akan memberikan kewibawaan dihadapan semua orang dan bisa menundukkan musuh.
Ism ini (Al-Mutakabbir) bersifat mendatangkan kebesaran dan menampakkkan kebaikan serta keberkatan. Karenanya, barangsiapa membacanya sepuluh kali pada malam pengantinnya dan sebelum melakukan jima’ dengan istrinya, maka ia akan dikaruniai anak yang saleh.


KESIMPULAN
            Semua yang diciptakan Allah di alam semesta ini terdapat tanda-tanda Kekuasaan, keagungan dan Kebesaran Allah, Sehingga Allah mempunyai sifat Al-Mutakabbir, hanya Allah sajalah yang patut menyombongkan diri. Tak ada satu makhlukpun yang patut sombong kecuali dalam beberapa keadaan yang diperintahkan Rasulullah yaitu bersikap sombong untuk melemahkan lawan saat perang.        
Pelajaran yang bisa kita ambil dari nama dan sifat Allah Al-Mutakabbir ini adalah:
1.     Hendaklah kita segera sadar ketika hendak sombong/takabbur. Karena kita akan berhadapan dengan Allah Yang Al-Mutakabbir dan kita akan dikecilkan dan dihinakan oleh-Nya.
2.     Takabbaro juga berarti enggan dan ketidak tundukan. Kita harus enggan dan tidak tunduk terhadap kemauan syahwat dan hawa nafsu.
3.     Takabbaro juga berarti memandang rendah selainnya, maka kita harus memandang rendah dan hina terhadap setiap perbuatan yang bersumber dari kemauan syahwat dan hawa nafsu belaka.

           
           






DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. 2005. Tafsir Ibnu Tafsir. Bogor: Pustaka Ilmu Syafi’i.
Alhabib.2011. http://www.al-habib.info/review/. (Diakses pada tanggal 03 November 2011)
Anonimus.2011. http://tidakmenarik.wordpress.com/manfaat-dan-keutamaan-asmaul-husna/.(Diakses pada tanggal 10 November 2011).
Departemen agama RI.  2005. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta : CV J-ART.
El-Bantanie, Syafi’ie.2009. Rahasia Keajaiban Asmaul-Husna. Jakarta: Wahyu Media.
Hashman, Ade. 2009. Meneladani Pola Hidup Sehat Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Hikmah
HMJ Biology.2011. http://hmjbio.blogspot.com/2011/04/rahasia-fisika-dan-kimia-dibalik-kentut.html (Diakses pada tanggal 04 November 2011).



Sabili.2011. http://www.sabili.co.id/tafakur/asma-al-husna-al-mutakabbir . (Diakses pada tanggal 10 November 2011).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar